Rasmus Hojlund Sebut Ruben Amorim Jadi Faktor Utama Kepergiannya dari Manchester United

Rasmus Hojlund buka suara soal kepergian dari Manchester United dan peran Ruben Amorim

BooKieindonesia.com, Medan – Striker asal Denmark, Rasmus Hojlund, akhirnya buka suara terkait kepergiannya dari Manchester United. Ia secara terbuka menyinggung mantan manajer Ruben Amorim sebagai salah satu penyebab utama kariernya di Old Trafford berakhir.

Keputusan Amorim yang mencoret namanya dari skuad pembuka Premier League saat menghadapi Arsenal pada Agustus lalu, menurut Hojlund, menjadi titik kritis bagi masa depannya di klub. Ia merasa sejak momen itu, kariernya di Setan Merah mulai menurun.

Kepindahannya ke Napoli dengan status pinjaman senilai £38 juta pada September lalu ternyata menjadi angin segar. Di bawah arahan Antonio Conte, performanya kembali menonjol dengan catatan 14 gol dari 37 laga musim ini.

Angka ini jelas jauh lebih baik dibandingkan musim kedua Hojlund bersama Manchester United, di mana ia hanya mencetak 10 gol dari 52 pertandingan. Kini, Napoli mempertimbangkan opsi permanen jika berhasil mengamankan tiket Liga Champions.

Hojlund menilai lingkungan di Napoli lebih kondusif untuk kesehatan mental dan perkembangan kariernya.


Tertekan dan Dibatasi di Old Trafford

Hojlund menceritakan bahwa bulan-bulan terakhirnya di Manchester United terasa membatasi dan menekan. Ia merasa tidak diberikan kesempatan yang cukup untuk membuktikan nilai transfernya yang mencapai £72 juta.

“Saya merasa seperti berada di dalam kotak menjelang akhir masa saya di Manchester,” ungkapnya dalam wawancara dengan TV2.

Ia sadar jika situasi terus seperti itu, ia hanya akan menjadi penonton dari pinggir lapangan. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mencari jalan keluar demi menyelamatkan kariernya.

“Saya tahu tidak akan banyak kesempatan bermain jika terus seperti ini,” tegas Hojlund.


Kehangatan dan Dukungan di Napoli

Berbeda dengan perlakuan di Old Trafford, Hojlund merasakan sambutan hangat di Napoli. Dukungan dari Antonio Conte menjadi faktor utama kebangkitannya di Serie A.

Baca Juga :  Rafael Leao Disorot Usai Tunjukkan Emosi saat Diganti di Laga Lazio vs Milan

“Saya mendapatkan apa yang saya inginkan melalui transfer ini,” ujarnya lega.

Menurutnya, dukungan dari seluruh elemen klub – dari manajemen hingga pelatih – sangat berarti. Ia merasa kembali menjadi pemain yang dihargai, bukan sekadar aset yang gagal memenuhi ekspektasi.

“Saya memiliki tim yang percaya pada saya. Klub, direktur olahraga, presiden, dan pelatih yang menginginkan saya,” imbuh Hojlund.


Menghadapi Kritikan Media Denmark

Hojlund juga menyoroti tekanan dari media di Denmark, yang kerap menampilkan narasi negatif tentang performanya. Ia menyadari komentar dan kritik sering muncul di media sosial, termasuk Instagram dan Facebook.

“Saya tahu di Denmark media membangun citra bahwa semuanya buruk dan saya bermain seperti ‘kantong kacang’, tapi saya tidak melihatnya begitu,” jelasnya.

Meskipun terkadang menyakitkan, Hojlund berusaha fokus pada performanya sendiri. Menurutnya, opini publik bisa berubah cepat begitu ia mulai mencetak gol lagi.

“Media punya pengaruh besar di sepak bola, sulit untuk tidak terpengaruh,” akunya.

Kini, fokus Hojlund hanya satu: tetap bermain maksimal dan mencetak gol bagi Napoli, sembari menjaga konsistensi performanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *