bookieindonesia.com, Yogyakarta — Presiden Justice and Democracy Forum (JDF) Asia Pasifik, Jazuli Juwaini, menyampaikan kecaman keras terhadap serangan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNIFIL, di Lebanon. Insiden tersebut menyebabkan satu prajurit TNI meninggal dunia.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Jazuli menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap pasukan perdamaian tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun. Ia menilai insiden tersebut mencerminkan lemahnya komitmen pihak terkait, termasuk Israel, dalam mewujudkan stabilitas dan perdamaian di kawasan.
Menurutnya, kehadiran pasukan UNIFIL di Lebanon merupakan bagian dari mandat resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjaga keamanan. Oleh karena itu, serangan terhadap mereka merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional yang harus ditindak secara tegas.
Jazuli juga mengingatkan bahwa jika kejadian ini dibiarkan tanpa respons serius, hal tersebut dapat menciptakan preseden buruk serta melemahkan kepercayaan terhadap sistem keamanan global.
Ia mendorong pemerintah Indonesia untuk bersikap aktif dengan membawa persoalan ini ke Dewan Keamanan PBB, guna memastikan adanya keadilan dan akuntabilitas internasional.
Selain itu, JDF Asia Pasifik turut menyampaikan duka mendalam kepada korban serta keluarga yang ditinggalkan, sekaligus menyatakan solidaritas kepada seluruh personel UNIFIL yang sedang menjalankan misi perdamaian.
Jazuli juga mendesak PBB dan komunitas internasional agar mengecam insiden tersebut secara tegas, melakukan penyelidikan independen dan transparan, serta menjatuhkan sanksi kepada pihak yang bertanggung jawab. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan maksimal bagi seluruh pasukan penjaga perdamaian.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa satu anggota TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL gugur, sementara tiga lainnya mengalami luka akibat serangan artileri pada Minggu (29/3).
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa korban terdiri dari satu prajurit meninggal dunia, satu mengalami luka berat, dan dua lainnya luka ringan yang kini tengah mendapatkan perawatan medis.
Insiden tersebut terjadi seiring meningkatnya eskalasi konflik di wilayah Lebanon, khususnya di bagian selatan negara tersebut.











