banner 728x250

Trump Bersikeras Ingin Ikut Tentukan Pemimpin Baru Iran Setelah Khamenei Tewas

Washington Menolak Putra Khamenei dan Ingin Pemimpin Iran yang Lebih “Sejalan”

trump campur tangan pemimpin baru iran
trump campur tangan pemimpin baru iran
banner 120x600
banner 468x60

Bookieindonesia.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya untuk terlibat langsung dalam proses penentuan pemimpin tertinggi Iran berikutnya setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Dalam wawancara dengan media Axios, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak dapat menerima kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menjadi penerus ayahnya. Ia menilai sosok tersebut tidak cukup kuat untuk memimpin Iran.

banner 325x300

Trump bahkan menyebut bahwa Amerika Serikat perlu ikut campur dalam proses tersebut demi memastikan Iran memiliki pemimpin yang dapat menciptakan stabilitas dan menghindari konflik baru dengan Washington.

Trump Bandingkan Situasi Iran dengan Venezuela

Dalam wawancara tersebut, Trump membandingkan situasi politik Iran dengan Venezuela. Ia mengatakan bahwa dirinya pernah terlibat dalam proses perubahan kepemimpinan di negara Amerika Latin itu.

Trump merujuk pada situasi ketika Delcy Rodriguez menjadi presiden sementara Venezuela setelah penggulingan pemimpin sebelumnya, Nicolas Maduro, yang akhirnya bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Menurut Trump, pendekatan serupa dapat diterapkan di Iran untuk memastikan pemerintahan baru yang lebih bersahabat dengan komunitas internasional.

Khawatir Konflik Baru Terjadi dalam Lima Tahun

Trump juga memperingatkan bahwa jika Iran dipimpin oleh sosok yang tetap melanjutkan kebijakan keras Khamenei, konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi kembali terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Ia menegaskan bahwa Washington menginginkan pemimpin Iran yang mampu membawa stabilitas serta perdamaian bagi negara tersebut dan kawasan Timur Tengah.

Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran

Secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Majelis Pakar, lembaga yang terdiri dari 88 ulama senior. Badan ini memiliki kewenangan penuh untuk menentukan penerus pemimpin tertinggi negara tersebut.

Baca Juga :  Iran Disebut Manfaatkan Celah Keamanan Teluk, Andalkan Drone Ketimbang Rudal

Namun sebagian besar anggota lembaga tersebut dikenal memiliki sikap yang sangat kritis terhadap Amerika Serikat, sehingga campur tangan Washington hampir dipastikan akan menuai penolakan dari kalangan elite politik dan keagamaan Iran.

Kematian Khamenei dan Kandidat Penggantinya

Ayatollah Ali Khamenei yang telah memimpin Iran sejak tahun 1989 dilaporkan tewas setelah lokasi pertemuannya bersama sejumlah pejabat Iran menjadi sasaran serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Otoritas Iran mengonfirmasi kematiannya sehari setelah serangan tersebut dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Sejumlah tokoh kemudian muncul sebagai kandidat pengganti Khamenei, di antaranya:

  • Mojtaba Khamenei, putra kedua Khamenei
  • Alireza Arafi, ulama senior dan orang kepercayaan Khamenei
  • Mohammad Mehdi Mirbagheri, anggota Majelis Pakar
  • Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran
  • Hashem Hosseini Bushehri, ulama senior Iran

Dari beberapa nama tersebut, Mojtaba Khamenei disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan ayahnya. Meski demikian, hingga kini pemerintah Iran belum secara resmi mengumumkan siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi yang baru.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *