BooKieindonesia.com, Medan — Gennaro Gattuso memastikan tim nasional Italia akan melakukan lawatan ke Stadion Bilino Polje di Zenica untuk menghadapi Bosnia-Herzegovina pada final play-off kualifikasi Piala Dunia, yang dijadwalkan berlangsung Rabu, 1 April 2026.
Kesempatan ini muncul setelah Bosnia-Herzegovina menyingkirkan Wales lewat drama adu penalti di Cardiff pada Jumat, 27 Maret 2026. Pertandingan ini menjadi ujian terakhir bagi Skuad Azzurri untuk mengakhiri absennya mereka dari putaran final Piala Dunia.
Kondisi di Zenica diprediksi menjadi ujian mental berat bagi Italia. Publik sepak bola Italia sangat berharap sejarah gagal lolos dalam dua edisi terakhir tidak terulang.
Modal awal Italia adalah kemenangan 2-0 atas Irlandia Utara di semifinal. Namun Gattuso memperingatkan bahwa Bosnia-Herzegovina memiliki karakter permainan yang berbeda dan patut diwaspadai.
Bosnia lolos ke final setelah bermain imbang 1-1 melawan Wales selama 120 menit. Pengalaman pemain senior mereka menjadi faktor yang perlu diwaspadai Italia.
Waspadai Atmosfer dan Pengalaman Pemain Bosnia
Gattuso memperingatkan bahwa atmosfer di Zenica akan sangat menekan dan bisa memengaruhi mental pemainnya sepanjang pertandingan. Meski begitu, ia menilai situasi ini tidak jauh berbeda dengan tekanan yang dialami di Cardiff.
Bosnia memiliki kedalaman skuad dengan banyak pemain berpengalaman internasional. Mereka dikenal disiplin di lini pertahanan dan memiliki striker yang sangat mematikan.
“Ini akan menjadi atmosfer yang berapi-api, meskipun jika kami ke Cardiff, situasinya serupa,” ujar Gattuso dalam konferensi pers.
Pelatih berusia 48 tahun itu menekankan bahwa menembus pertahanan Bosnia bukan pekerjaan mudah. Organisasi permainan mereka rapat dan ketajaman lini depan menjadi senjata utama.
“Ada banyak pemain berpengalaman di tim Bosnia. Mereka menutup ruang dengan baik dan mengandalkan striker mereka. Ini akan menjadi laga sulit lainnya,” tambahnya.
Evaluasi Kesalahan Taktis Laga Sebelumnya
Melihat laga kontra Irlandia Utara, Gattuso mengakui adanya kekeliruan posisi pemain. Manuel Locatelli bermain terlalu dalam sehingga mengganggu struktur permainan.
Akibatnya, bek tengah seperti Gianluca Mancini sering terlihat membantu serangan sebagai bek sayap, yang sebenarnya tidak sesuai instruksi tim pelatih.
“Selain tekanan lawan, kami juga membuat kesalahan di babak pertama dengan Locatelli terlalu dalam, akhirnya Mancini harus bertindak sebagai bek sayap,” ungkap Gattuso.
Pelatih Italia menekankan pentingnya menarik gelandang lawan ke depan untuk membuka ruang bagi penyerang, namun serangan mereka justru sering terjebak di sisi kanan.
“Kami perlu membawa gelandang mereka ke depan dan mencari striker kami, tapi kami terus mengoper ke kanan untuk Politano,” tegasnya.
Kondisi Pemain dan Strategi Pemulihan
Kondisi fisik menjadi perhatian utama Gattuso menjelang perjalanan ke markas Bosnia-Herzegovina. Alessandro Bastoni yang baru pulih dari cedera pergelangan kaki mendapatkan perawatan khusus.
Gattuso memutuskan menarik Bastoni lebih awal karena sudah menerima kartu kuning, untuk menghindari risiko kehilangan pemain kunci di momen krusial.
“Bastoni baru pulih hampir tiga minggu dan belum berlatih penuh. Dia mendapat kartu kuning, jadi saya memilih tidak mengambil risiko,” ujar Gattuso.
Beberapa pemain lain, seperti Gianluca Scamacca, mengalami benturan ringan, namun pelatih optimistis skuad tetap solid. Fokus tim medis sekarang adalah meminimalkan risiko cedera sebelum laga final.
“Hanya Scamacca yang benturan, tapi dia tetap bisa bermain. Sekarang kami harus pulih secepat mungkin,” tutup mantan gelandang AC Milan itu.











