BooKieindonesia.com, Medan – Sejumlah negara mulai melakukan pendekatan diplomatik kepada Iran agar kapal-kapal mereka tetap dapat melintasi Selat Hormuz secara aman di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik membuat jalur pelayaran strategis tersebut sempat ditutup oleh Iran sebagai bentuk tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Penutupan jalur yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia itu langsung memicu lonjakan harga energi global.
Pendiri lembaga pemikir Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, mengatakan beberapa negara kini memilih berkomunikasi langsung dengan Iran untuk memastikan jalur pelayaran mereka tetap terbuka.
Menurutnya, sejumlah negara penting berupaya mencapai kesepakatan sendiri dengan Iran agar kapal mereka dapat melewati selat tersebut dengan aman. Ia juga menilai langkah ini menunjukkan siapa pihak yang memiliki kendali atas situasi di kawasan tersebut.
India Dapat Izin Melintas
Salah satu negara yang disebut telah mencapai kesepakatan adalah India. Beberapa sumber di sektor pelayaran menyebut Iran telah mengizinkan dua kapal pengangkut gas minyak cair berbendera India untuk melewati Selat Hormuz.
Kapal tanker LPG bernama Shivalik dilaporkan berhasil melintasi selat dengan pengawalan dari Angkatan Laut India. Sementara kapal lain, Nanda Devi, dijadwalkan menyusul dalam waktu dekat.
Sejak konflik di kawasan meningkat, Iran disebut tidak mengizinkan pengiriman yang berkaitan dengan Amerika Serikat maupun sekutunya keluar dari selat tersebut. Namun India mendapat pengecualian.
Pada Kamis (13/3), Perdana Menteri India Narendra Modi juga mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membahas jalur perdagangan serta distribusi energi dari kawasan Teluk.
Selain itu, India juga memberikan perlindungan kepada 183 pelaut Iran yang sebelumnya berada di kapal yang berlabuh saat konflik pecah. Kapal tersebut merupakan bagian dari latihan militer di India, sementara kapal lain dilaporkan tenggelam akibat serangan torpedo di perairan dekat Sri Lanka.
Prancis Upayakan Koalisi Pengamanan
Sementara itu, Prancis juga disebut tengah melakukan negosiasi dengan Iran agar kapal-kapalnya dapat melewati Selat Hormuz tanpa gangguan.
Sejumlah pejabat Prancis menyatakan pemerintah bahkan mempertimbangkan pembentukan koalisi internasional guna menjaga keamanan jalur perdagangan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Prancis dilaporkan berkonsultasi dengan negara-negara di Eropa, Asia, serta kawasan Teluk Arab untuk menyusun rencana pengawalan kapal tanker menggunakan kapal perang.
Seorang pejabat Prancis menjelaskan bahwa situasi saat ini masih belum memungkinkan pengerahan operasi militer secara langsung. Oleh karena itu, pendekatan diplomasi menjadi langkah awal sebelum rencana keamanan lebih lanjut dipertimbangkan.
Indonesia Lakukan Pendekatan Diplomatik
Pemerintah Indonesia juga mengambil langkah diplomatik setelah dua kapal milik Pertamina International Shipping tertahan di sekitar kawasan Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers pada Jumat (13/3), juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang menyampaikan bahwa Indonesia terus menjalin komunikasi dengan otoritas Iran.
Ia menegaskan bahwa pemerintah sedang melakukan pendekatan diplomatik secara intensif agar kapal Indonesia dapat melintasi selat tersebut dengan aman.
Dua kapal yang dimaksud adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro. Kapal Gamsunoro diketahui mengangkut kargo milik pelanggan pihak ketiga, sementara Pertamina Pride membawa pasokan minyak mentah yang dibutuhkan untuk kebutuhan energi di dalam negeri.











