BooKieindonesia.com, Medan – Barcelona tengah menghadapi tantangan besar dalam perburuan gelar musim 2025-26. Ketergantungan pada Raphinha menjadi sorotan utama setelah winger Brasil itu diperkirakan akan absen cukup lama akibat cedera yang dialaminya saat memperkuat negaranya melawan Prancis.
Kehadiran Hansi Flick awalnya memberi efek positif bagi performa Raphinha. Pemain yang sempat mempertimbangkan hengkang kini justru menjadi elemen vital dalam taktik Blaugrana.
Situasi ini sangat berbeda dibandingkan era akhir kepelatihan Xavi Hernandez, ketika tekanan tinggi sempat membuat hubungan klub-pemain nyaris renggang karena kontribusi Raphinha dianggap kurang maksimal.
Transformasi Raphinha di Bawah Arahan Flick
Kedatangan Flick mengubah peran Raphinha secara signifikan di lini serang Barcelona. Selain menjadi pencetak gol, ia juga berperan penting dalam menentukan ritme permainan dan transisi cepat tim.
Pelatih asal Jerman ini memaksimalkan kecepatan dan kemampuan menusuk pertahanan lawan dari Raphinha. Hasilnya, winger 29 tahun itu tercatat menyumbang 27 kontribusi gol musim ini, menjadikannya salah satu pemain paling menentukan.
Tanpa kehadiran Raphinha, efektivitas serangan Barcelona menurun cukup tajam, karena tim kehilangan salah satu motor utama dalam menyerang dan melakukan pressing tinggi.
Data Statistik Tanpa Raphinha Cukup Mengerikan
Analisis performa tim menunjukkan perbedaan mencolok antara laga dengan dan tanpa Raphinha. Ketika ia tampil, Barcelona meraih 23 kemenangan dari 27 pertandingan, atau setara dengan persentase kemenangan 85,2 persen.
Sebaliknya, saat winger Brasil itu absen, performa tim menurun signifikan. Dari 12 laga tanpa Raphinha, Barca hanya mampu menang 7 kali dan kalah 4 kali, dengan persentase kemenangan turun menjadi 58,3 persen.
Kelemahan lain terlihat dari sisi pertahanan. Rata-rata kebobolan meningkat dari 0,9 gol per pertandingan menjadi 1,8 gol saat Raphinha tidak bermain, menandakan pengaruh besar perannya dalam menekan lawan.
Cedera dan Ancaman Terhadap Gelar
Cedera hamstring yang dialami Raphinha membuatnya diperkirakan absen hingga lima pekan, tepat pada fase krusial musim yang dapat menentukan perburuan gelar.
Kehilangan Raphinha bukan hanya soal kontribusi gol, tetapi juga menurunkan intensitas pressing tim. Pertahanan tinggi Barcelona menjadi lebih mudah ditembus, seperti terlihat saat mereka kalah 0-4 dari Atletico Madrid di Copa del Rey tanpa Raphinha. Ketika ia kembali, Barcelona berhasil bangkit menang 3-0 dan Raphinha turut mencetak gol.
Jika absennya berlanjut, peluang Barcelona untuk menjuarai liga atau Copa del Rey berpotensi terganggu. Flick kini menghadapi tugas berat menemukan solusi cepat untuk menjaga konsistensi tim tanpa pemain kunci ini.











