banner 728x250

Iran Disebut Manfaatkan Celah Keamanan Teluk, Andalkan Drone Ketimbang Rudal

Ribuan Drone Murah Jadi Senjata Andalan Teheran untuk Tekan AS dan Sekutu di Kawasan Teluk

Iran Disebut Manfaatkan Celah Keamanan Teluk, Andalkan Drone Ketimbang Rudal
Iran Disebut Manfaatkan Celah Keamanan Teluk, Andalkan Drone Ketimbang Rudal
banner 120x600
banner 468x60

bookieindonesia.com, JakartaIran dinilai tengah memanfaatkan titik lemah sistem pertahanan di kawasan Teluk dengan mengintensifkan penggunaan drone jarak jauh. Sejumlah analis memandang langkah ini sebagai strategi terukur untuk meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat (AS) agar segera mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.

Laporan gabungan dari Institute for the Study of War (ISW) dan American Enterprise Institute melalui proyek Critical Threats Project mengungkap adanya perbedaan pola serangan yang dilakukan Teheran di berbagai wilayah. Iran disebut lebih banyak menggunakan rudal balistik saat menargetkan Israel, sementara terhadap negara-negara Teluk, serangan didominasi oleh drone.

banner 325x300

Menurut kajian tersebut, pilihan senjata yang berbeda ini menunjukkan adanya kalkulasi strategis berdasarkan efektivitas, biaya, serta dampak politik yang ingin dicapai.


Perbedaan Pola Serangan ke Israel dan Teluk

Data militer Israel mencatat lebih dari 50 drone diluncurkan dari wilayah Iran pada Minggu (1/3/2026) malam. Meski jumlahnya signifikan, angka itu masih lebih kecil dibandingkan serangan yang diarahkan ke kawasan Teluk.

Negara-negara Teluk dilaporkan menerima lebih dari 1.000 drone, sebagian besar merupakan drone kamikaze jenis Shahed-136. Drone ini dikenal sebagai amunisi jelajah yang dirancang untuk menghantam target secara langsung dan meledak saat kontak.

Skala serangan yang jauh lebih besar ke kawasan Teluk memunculkan dugaan bahwa Iran berupaya memperluas tekanan, bukan hanya secara militer tetapi juga psikologis dan ekonomi.


Sasaran Strategis dan Dampaknya

Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan telah menjadi target ratusan drone dan hampir 200 rudal sejak konflik memanas. Target serangan mencakup berbagai lokasi penting, mulai dari fasilitas militer asing hingga kawasan sipil seperti hotel mewah.

Di Arab Saudi, dua drone dilaporkan menghantam area Kedutaan Besar AS pada Selasa (3/3/2026). Selain itu, fasilitas energi strategis di Ras Tanura—kilang minyak utama di pesisir Teluk—turut terdampak, menyebabkan sebagian operasionalnya terhenti.

Baca Juga :  Solidaritas Korban Penembakan, DKI Beri Warna Bendera New Zealand di JPO GBK

Serangan juga disebut menjangkau negara lain seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, dan Yordania. Luasnya cakupan serangan memperlihatkan bahwa konflik berpotensi merembet ke kawasan yang lebih luas.


Drone Murah, Efek Maksimal

Steve Feldstein dari Carnegie Endowment for International Peace menilai penggunaan drone berbiaya relatif rendah merupakan langkah yang efisien dalam strategi militer modern. Dengan biaya produksi hanya puluhan ribu dolar per unit, drone tersebut jauh lebih murah dibandingkan rudal pencegat yang digunakan untuk menembaknya.

Konsep ini dikenal sebagai perang attrisi—yakni strategi menguras sumber daya lawan secara perlahan namun konsisten. Dengan memaksa musuh mengeluarkan biaya besar untuk pertahanan, Iran dinilai mampu menciptakan tekanan finansial jangka panjang.

Seorang sumber industri pertahanan Eropa menyebut Shahed-136 memang dirancang untuk skenario semacam itu. Ketidakseimbangan biaya antara drone dan sistem pertahanan udara menjadikan pendekatan ini efektif dalam konflik berkepanjangan.


Tekanan Politik ke Washington

Camille Lons dari European Council on Foreign Relations menganalisis bahwa serangan ke negara-negara Teluk tidak semata soal militer, tetapi juga kalkulasi politik. Iran diduga ingin menciptakan tekanan internal di negara-negara tersebut agar mereka mendesak Washington menghentikan operasi militernya.

Berbeda dengan Israel yang memiliki pengalaman panjang menghadapi ancaman serupa, negara-negara Teluk dianggap memiliki daya tahan politik dan sosial yang lebih terbatas terhadap serangan berulang.

Namun, strategi ini juga berisiko menjadi bumerang. Seth Jones dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperingatkan bahwa eskalasi serangan justru bisa mendorong keterlibatan lebih dalam dari negara-negara Teluk.

Ia menilai kemungkinan terbuka bagi sebagian negara untuk memberikan dukungan intelijen atau bahkan mengizinkan wilayahnya dipakai sebagai basis operasi ofensif, bukan sekadar pertahanan.

Baca Juga :  Prediksi Bola 19 Okt - 20 Okt 2024

Respons Militer dan Dukungan Internasional

Sebagai tanggapan atas situasi tersebut, Washington dilaporkan mengerahkan pesawat serang A-10 ke kawasan Teluk guna memperkuat kemampuan menghadapi drone. Langkah ini menunjukkan bahwa ancaman drone murah kini menjadi perhatian utama dalam strategi pertahanan modern.

Di sisi lain, Ukraina menyatakan kesiapannya berbagi pengalaman dalam menghadapi teknologi drone buatan Iran. Negara itu sebelumnya telah berhadapan dengan sistem serupa dalam konflik di wilayahnya.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa dinamika perang modern tidak lagi sepenuhnya bergantung pada persenjataan mahal dan canggih. Penggunaan teknologi sederhana namun masif justru mampu menciptakan tekanan strategis yang signifikan.

Dengan pola serangan yang terus berkembang, kawasan Teluk kini menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Pilihan Iran untuk mengandalkan drone ketimbang rudal di wilayah tersebut menunjukkan adanya adaptasi taktik yang dirancang untuk memaksimalkan dampak militer sekaligus politik dalam konflik yang kian memanas.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *