BooKieindonesia.com, Medan – Mantan kiper Emiliano Viviano meluapkan kekecewaannya setelah Italia kembali tidak berhasil tampil di Piala Dunia 2026. Ia menilai federasi sepak bola setempat tidak menunjukkan tanggung jawab atas kegagalan tersebut.
Italia harus angkat koper setelah kalah melalui adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina pada babak play-off. Kekalahan ini membuat tim berjuluk Azzurri absen di tiga edisi Piala Dunia secara berturut-turut.
Kondisi ini langsung memicu kritik dari berbagai kalangan, termasuk Viviano yang menjadi salah satu figur paling vokal. Ia tidak hanya menyoroti kinerja pimpinan federasi, tetapi juga mengangkat persoalan yang menurutnya sudah lama mengakar dalam sistem sepak bola Italia.
Sorotan untuk Ketua Federasi
Viviano mempertanyakan sikap presiden federasi yang tetap bertahan di jabatannya. Menurutnya, hal tersebut sulit diterima mengingat besarnya kegagalan yang terjadi.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab seharusnya diambil oleh pihak tertinggi dalam organisasi. Baginya, situasi ini menunjukkan adanya kelemahan dalam kepemimpinan.
“Saya tidak mengerti mengapa presiden federasi belum mundur,” ujar Viviano.
“Kalau saya berada di posisi tersebut, saya akan memilih untuk meninggalkan jabatan itu,” tambahnya dengan tegas.
Kritik terhadap Sistem Akademi
Selain menyinggung federasi, Viviano juga mengkritik kondisi pembinaan pemain muda di Italia. Ia menilai sistem akademi saat ini belum mampu mengembangkan potensi secara maksimal.
Pengalamannya sebagai orang tua dari anak yang bermain sepak bola membuatnya melihat langsung kekurangan dalam proses pembinaan. Menurutnya, fokus akademi terlalu sempit.
“IItalia sebenarnya memiliki banyak talenta hebat, sama seperti negara-negara Balkan, dan secara alami punya peluang besar untuk sukses,” jelasnya.
“Namun di akademi, tidak ada fondasi yang benar-benar dibangun. Tidak ada pembelajaran yang jelas, semuanya hanya berorientasi pada menang atau kalah dalam jangka pendek,” lanjutnya.
Tuntutan Reformasi Total
Pernyataan Viviano mencerminkan keresahan yang lebih luas di dunia sepak bola Italia. Banyak pihak kini mulai mendesak adanya perubahan menyeluruh, mulai dari level atas hingga pembinaan dasar.
Tekanan terhadap federasi pun semakin meningkat, meskipun hingga saat ini belum terlihat langkah nyata untuk melakukan perbaikan besar.
“Situasi seperti ini tidak boleh terus dibiarkan,” tegas Viviano.
“Sepak bola Italia perlu dibenahi dari akar agar bisa kembali bersaing di tingkat tertinggi,” pungkasnya.
