HomeBerita
Berita  

Praja IPDN Turun Tangan Bersihkan Situs Bersejarah Pasca Banjir Aceh Tamiang

Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 36 ambil bagian dalam pemulihan pascabencana dengan membersihkan lumpur di Istana Benua Raja, Aceh Tamiang.

Praja IPDN Turun Tangan Bersihkan Situs Bersejarah Pasca Banjir Aceh Tamiang
Praja IPDN Turun Tangan Bersihkan Situs Bersejarah Pasca Banjir Aceh Tamiang

bookieindonesia.com, Surabaya Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mengerahkan Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk membersihkan lumpur yang menutupi situs bersejarah di Aceh Tamiang, Aceh.

Salah satu praja, I Gusti Ngurah Erlang AW, mengaku bangga mendapat kesempatan membantu masyarakat terdampak bencana. “Kami merasa diberi misi kemanusiaan. Ini pengalaman pertama bagi sebagian besar dari kami di Aceh, dan kami sangat senang bisa berkontribusi,” ujarnya.

Situs yang dibersihkan adalah Istana Benua Raja, peninggalan Kerajaan Benua Tunu di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Dengan sekop dan kereta dorong, Erlang dan rekan-rekannya menyisir setiap sudut bangunan yang terkena endapan lumpur akibat banjir pada akhir November lalu.

Meskipun panas terik, Praja Pratama IPDN angkatan 36 tetap antusias melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga, yang menargetkan pembersihan 42 lokasi, termasuk rumah warga dan situs bersejarah. Kontingen Bali dikirim bersama 730 praja lainnya oleh Kementerian Dalam Negeri untuk mempercepat pemulihan pascabencana.

Erlang menegaskan bahwa penugasan ini lebih dari sekadar membersihkan lumpur. PKL kali ini menuntut keterlibatan langsung dengan masyarakat, memperkuat misi kemanusiaan bagi penyintas bencana.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, menekankan pentingnya kerja keras praja IPDN dalam membersihkan lumpur di lingkungan warga. Saat memimpin apel pembukaan PKL gelombang ketiga di Istana Benua Raja pada 4 April lalu, Tito menyebutkan bahwa fokus praja gelombang ketiga adalah membersihkan rumah warga, drainase, jalan desa, serta situs sejarah yang terimbas lumpur banjir setinggi 4–5 meter.

“Target utama adalah mengatasi endapan lumpur yang mengeras, baik di situs bersejarah maupun permukiman warga, agar proses pemulihan lingkungan pascabencana bisa berjalan lebih cepat,” kata Tito.

Skenario Jalannya Kegiatan Pemulihan

  1. Pembukaan PKL: Apel gelombang ketiga di Istana Benua Raja, arahan oleh Ketua Satgas PRR, Tito Karnavian.
  2. Penugasan Praja: 731 praja IPDN dibagi ke 42 lokasi terdampak, termasuk situs bersejarah dan permukiman warga.
  3. Pembersihan Situs Bersejarah: Praja membersihkan lumpur di Istana Benua Raja dengan sekop dan kereta dorong.
  4. Pemulihan Permukiman: Praja membersihkan rumah warga, drainase, dan jalan desa yang terendam lumpur.
  5. Monitoring & Evaluasi: Satgas PRR mengecek progres, memastikan lokasi sudah bersih dan aman bagi masyarakat.

Kesimpulan Akhir Artikel

Kegiatan Praja IPDN di Aceh Tamiang menunjukkan sinergi antara pendidikan, pengabdian masyarakat, dan upaya pemulihan pascabencana. Pembersihan situs bersejarah sekaligus permukiman warga menjadi bukti nyata kontribusi nyata praja dalam misi kemanusiaan.

Ringkasan Prediksi Artikel

  • Praja IPDN akan terus berperan aktif di lokasi terdampak banjir Aceh Tamiang.
  • Kegiatan ini dapat mempercepat pemulihan situs bersejarah dan permukiman warga.
  • Pengalaman PKL gelombang ketiga diharapkan memperkuat kapasitas kemanusiaan praja IPDN.
Exit mobile version