Bookieindonesia.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi sinyal bahwa pemerintahannya kemungkinan akan mengalihkan fokus ke negara lain setelah konflik melawan Iran berakhir. Negara yang disebut berpotensi menjadi perhatian berikutnya adalah Kuba.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menerima kunjungan tim sepak bola Inter Miami CF, juara Major League Soccer 2025, dalam sebuah acara di Gedung Putih pada awal Maret 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyebut pemerintahannya ingin terlebih dahulu menuntaskan konflik yang sedang berlangsung di Iran sebelum mengambil langkah lain di kawasan Karibia.
Trump juga memuji Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menurutnya telah melakukan pekerjaan penting terkait kebijakan terhadap Kuba. Pemerintah AS diketahui telah memperketat berbagai sanksi ekonomi terhadap negara pulau tersebut dengan tujuan menekan pemerintah komunis di sana.
Kuba Disebut Bisa Jadi Fokus Kebijakan Berikutnya
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa langkah terhadap Kuba hanya tinggal menunggu waktu setelah urusan dengan Iran selesai. Ia bahkan menyebut banyak pihak nantinya bisa kembali beraktivitas di negara tersebut jika situasi berubah.
Komentar itu memunculkan spekulasi bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan kebijakan luar negeri baru yang berpotensi berdampak besar di kawasan Amerika Latin. Pernyataan tersebut muncul ketika konflik militer di Timur Tengah masih berlangsung dan belum sepenuhnya mereda.
Hubungan antara Washington dan Havana sendiri telah lama diwarnai ketegangan. Pemerintah AS selama bertahun-tahun menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi terhadap Kuba, dengan tujuan menekan pemerintahan komunis yang berkuasa di negara tersebut.
Tekanan Ekonomi terhadap Kuba Terus Ditingkatkan
Langkah tekanan terhadap Kuba juga diperkuat setelah perubahan situasi di Venezuela. Pemerintah AS sebelumnya menyatakan akan memutus aliran minyak dari Venezuela yang selama ini menjadi salah satu sumber energi penting bagi Kuba.
Kebijakan tersebut diyakini memperburuk kondisi ekonomi di negara Karibia itu, yang memang sudah lama menghadapi dampak sanksi internasional.
Trump juga menegaskan bahwa pemerintahannya tidak ragu menggunakan kekuatan militer untuk mendukung agenda kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menyebut pembangunan kembali kekuatan militer AS sejak masa jabatan pertamanya sebagai salah satu faktor yang membuat intervensi militer Amerika efektif di berbagai wilayah.
Menurutnya, meskipun penggunaan militer bukan pilihan utama, pengalaman menunjukkan bahwa kekuatan tersebut mampu menghasilkan hasil yang diinginkan ketika digunakan.









