BooKieindonesia.com, Medan – Dedi Kusnandar kini dikenal sebagai nyawa lini tengah Persib Bandung. Namun, tak banyak yang tahu bahwa gelandang asal Sumedang ini sempat dua kali menolak kesempatan pulang ke klub masa kecilnya ketika usianya masih sangat muda.
Keputusan itu bukan karena ia tidak mencintai Persib. Justru sebaliknya, rasa hormat Dado terhadap klub membuatnya menilai dirinya belum siap memikul tanggung jawab besar di tim Pangeran Biru saat itu.
Dedi memulai karier di SSB UNI Bandung sebelum masuk ke tim Persib U-21. Namun, langkah profesionalnya dimulai jauh dari Bandung, tepatnya bersama Pelita Jaya. Jalan kariernya pun sempat berliku, ia merantau ke beberapa klub besar Indonesia sebelum akhirnya siap membela Persib pada 2015.
Saran Senior dan Tolakan Pertama di 2012
Kesempatan pertama datang pada 2012, ketika Djadjang Nurdjaman yang baru menjabat pelatih Persib menghubungi Dado yang masih bermain di Pelita Jaya U-21.
Alih-alih langsung menerima, Dado memilih bersikap realistis. Ia sadar bersaing di lini tengah Maung Bandung yang dihuni pemain senior seperti Firman Utina dan Eka Ramdani bukan perkara mudah.
“Saya berdiskusi dengan pemain senior karena saya mulai kenal dengan Eka Ramdani dan Firman Utina. Saya minta masukan mereka, sebagai pemain junior yang masih berjuang mendapatkan menit bermain,” kata Dado dikutip dari kanal YouTube Sport 77.
Akhirnya, Dado memilih bertahan di Pelita Jaya, yang kemudian bergabung menjadi Arema Cronus. Ia menegaskan bergabung dengan klub sebesar Persib membutuhkan kesiapan mental, bukan sekadar kemampuan teknis.
“Siapa yang tidak bangga bisa gabung Persib, tapi saya harus menolak secara halus. Bermain di Persib tidak hanya soal skill, tetapi juga harus kuat menghadapi tekanan,” imbuhnya.
Tawaran Kedua dan Pilihan Berat
Kesempatan kedua muncul menjelang musim 2014. Djadjang kembali mencoba merayu Dado agar bergabung bersama kiper muda Muhammad Natshir yang saat itu berada di Malang.
Dado sebenarnya hampir menyetujui tawaran tersebut, tetapi sebuah telepon malam hari dari Rahmad Darmawan membuatnya menunda lagi.
“Siang hari saya sudah deal secara lisan dengan Persib, malamnya coach Rahmad menelepon dan menawarkan saya bergabung ke Persebaya. Akhirnya saya batal lagi,” kenangnya.
Ia merasa di usia 22 tahun, ia masih butuh jam terbang reguler. Bergabung dengan Persib terlalu dini bisa membuatnya lebih sering duduk di bangku cadangan.
“Alasan saya tetap sama, mencari menit bermain karena usia masih 22 tahun. Saya belum siap gabung Persib,” sambung Dado.
Gagal Juara ISL 2014, Tapi Jadi Kapten Timnas
Menolak tawaran kedua terasa pahit karena Persib akhirnya memenangi ISL 2014. Dado hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Namun, pengorbanan itu berbuah di level internasional. Dengan menit bermain konsisten di klub, ia menjadi andalan Timnas Indonesia U-23 dan sempat menjalani TC di Eropa.
“Setelah menolak, Persib juara 2014. Tapi saya bisa masuk Timnas U-23 untuk Asian Games di Incheon, Korea Selatan,” ungkapnya.
Di bawah pelatih Aji Santoso, Dado bahkan dipercaya memegang ban kapten. Ia sempat menjajal kekuatan klub-klub elite Italia seperti AS Roma, Lazio, dan Cagliari dalam rangkaian uji coba.
Penantian panjang itu berakhir pada akhir 2015 ketika ia resmi berseragam Persib. Kesabaran Dado terbayar manis, termasuk meraih dua gelar juara pada musim 2023/2024 dan 2024/2025.
