BookieIndonesia, Medan — Chelsea kini berada dalam tekanan besar terkait peluang mereka tampil di Liga Champions musim depan. Serangkaian hasil negatif dalam beberapa laga terakhir membuat posisi mereka di klasemen semakin terancam.
Kekalahan 0-3 dari Everton menjadi pukulan terbaru bagi tim yang ditangani oleh Liam Rosenior. Hasil ini semakin menjauhkan mereka dari zona lima besar yang menjadi target utama.
Masalah ini bukan hanya terjadi dalam satu pertandingan. Sebelumnya, Chelsea juga harus menelan kekalahan telak dari Paris Saint-Germain di Liga Champions dengan agregat mencolok 2-8.
Tekanan terhadap Rosenior pun semakin meningkat. Namun, banyak pihak menilai bahwa tidak sepenuhnya adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada sang pelatih.
Rosenior Dinilai Bukan Sumber Utama Masalah
Nama Rosenior memang tengah menjadi sorotan. Namun, ia lebih dianggap sebagai korban situasi dibandingkan penyebab utama menurunnya performa tim.
Pelatih berusia 41 tahun itu mewarisi skuad yang tidak tersusun secara seimbang. Sejumlah keputusan manajemen di masa lalu turut membentuk kondisi yang dihadapi Chelsea saat ini.
Meski dikenal sebagai pelatih muda yang potensial, tanggung jawab besar di klub sebesar Chelsea datang terlalu cepat baginya. Minimnya pengalaman di level tertinggi pun terlihat dari beberapa keputusan yang menuai kritik.
Kebijakan Transfer Masih Jadi Pertanyaan
Dalam beberapa musim terakhir, Chelsea telah menghabiskan dana besar untuk mendatangkan pemain baru. Namun, hasil di lapangan belum sebanding dengan investasi tersebut.
Klub lebih fokus merekrut pemain muda berbakat seperti Jamie Gittens, Alejandro Garnacho, dan Estevao Willian.
Sayangnya, kebutuhan di posisi penting seperti penjaga gawang justru belum menjadi prioritas. Hal ini menjadi salah satu kelemahan yang cukup terlihat.
Masalah di Posisi Kiper dan Pertahanan
Posisi kiper menjadi titik lemah utama Chelsea saat ini. Robert Sanchez dan Filip Jorgensen dinilai belum mampu memberikan rasa aman.
Beberapa kesalahan krusial dari keduanya berdampak langsung terhadap hasil pertandingan. Selain itu, rotasi kiper yang terlalu sering juga mengganggu kestabilan lini belakang.
Akibatnya, pertahanan Chelsea menjadi mudah ditembus lawan dan sulit menjaga konsistensi permainan.
Minimnya Pengalaman Pelatih Jadi Tantangan
Chelsea kini terlihat mengubah pendekatan dalam memilih pelatih dengan lebih mengandalkan sosok muda. Strategi ini berbeda dibandingkan era sebelumnya.
Dulu, klub kerap menunjuk pelatih berpengalaman seperti José Mourinho, Carlo Ancelotti, Antonio Conte, dan Thomas Tuchel yang sukses membawa kestabilan tim.
Rosenior menjadi bagian dari perubahan tersebut. Namun, tanpa fondasi tim yang kuat, upaya membangun kembali performa Chelsea menjadi tantangan besar.
