bookieindonesia.com, Pangkalpinang Perjalanan Leicester City dalam satu dekade terakhir menjadi gambaran ekstrem tentang betapa cepatnya nasib sebuah klub bisa berubah. Dari tim yang pernah menciptakan keajaiban dengan menjuarai Premier League, kini mereka justru harus menerima kenyataan pahit terdegradasi hingga ke EFL League One.
Pernyataan Jordan James pada akhir tahun lalu yang menyebut mustahil Leicester kembali turun kasta kini terdengar bertolak belakang dengan kenyataan. Hasil imbang kontra Hull City menjadi penutup musim yang mengecewakan sekaligus memastikan degradasi mereka.
Jika menoleh ke belakang, hanya sepuluh tahun lalu Leicester mengukir sejarah besar bersama Claudio Ranieri dengan menjuarai Premier League. Tak berhenti di situ, mereka juga meraih trofi FA Cup pada era Brendan Rodgers.
Namun, kejayaan tersebut perlahan memudar. Sejak 2020, penurunan performa mulai terlihat saat Leicester gagal mengamankan tiket Liga Champions. Tekanan finansial akibat kegagalan itu, ditambah dampak pandemi COVID-19, memperburuk kondisi klub.
Masalah semakin kompleks ketika kebijakan transfer pada 2021 tidak berjalan efektif. Perekrutan pemain seperti Patson Daka, Boubakary Soumaré, dan Jannik Vestergaard tidak diimbangi dengan pelepasan pemain kunci, sehingga membebani keuangan klub.
Kekalahan telak dari Nottingham Forest di ajang FA Cup 2022 menjadi salah satu titik krusial yang menandai kemunduran. Rodgers bahkan mengakui timnya sudah kehilangan identitas.
Kepergian sosok penting seperti Wes Morgan, Christian Fuchs, dan Kasper Schmeichel turut mempercepat penurunan performa.
Leicester akhirnya terdegradasi dari Premier League, dengan Rodgers digantikan oleh Dean Smith. Namun pergantian tersebut datang terlambat untuk menyelamatkan musim.
Alih-alih melakukan perombakan total, manajemen di bawah Aiyawatt Srivaddhanaprabha tetap mempertahankan struktur lama, termasuk direktur olahraga Jon Rudkin.
Meski sempat promosi kembali pada musim 2023/24 bersama Enzo Maresca, fondasi klub ternyata belum kuat. Leicester kembali mengeluarkan dana besar untuk pemain seperti Harry Winks dan Conor Coady, yang kemudian berujung pada pelanggaran aturan finansial.
Situasi semakin rumit dengan pergantian pelatih. Setelah Maresca hengkang ke Chelsea, Leicester menunjuk Steve Cooper, namun gagal memenuhi target. Penggantinya, Ruud van Nistelrooy, juga tidak mampu memperbaiki keadaan.
Serangkaian hasil buruk, termasuk 18 kekalahan dari 25 pertandingan, membuat Leicester kembali terdegradasi. Kondisi diperparah dengan sanksi pengurangan poin akibat pelanggaran finansial.
Di sisi lain, proses pergantian pelatih yang lambat turut memperburuk situasi. Van Nistelrooy baru dilepas beberapa pekan setelah musim berakhir, sementara penggantinya, Martí Cifuentes, datang mendekati awal musim baru.
Kepergian ikon klub Jamie Vardy tanpa pengganti sepadan semakin memperjelas krisis yang terjadi.
Penunjukan Gary Rowett sebagai pelatih berikutnya pun tidak membawa perubahan signifikan. Minimnya kemenangan membuat Leicester harus menerima kenyataan pahit turun ke League One untuk kedua kalinya.
Kisah Leicester kini menjadi pelajaran penting dalam dunia sepak bola: kesuksesan besar tidak menjamin stabilitas jangka panjang. Kesalahan manajemen yang terus berulang, ditambah keputusan yang tidak tepat, menjadi faktor utama runtuhnya fondasi klub dalam waktu singkat.
