bookieindonesia.com, Palembang Performa impresif Veda Ega Pratama di ajang Moto3 musim 2026 harus terhenti setelah ia gagal menyelesaikan balapan pada seri GP Amerika. Hasil tersebut membuat potensinya seolah terpinggirkan, bahkan oleh para pesaing yang tengah naik daun.
Pebalap muda andalan Honda Team Asia itu untuk pertama kalinya tidak meraih poin musim ini usai mengalami kecelakaan saat balapan di Circuit of the Americas, Austin, pada akhir Maret.
Saat itu, Veda tengah bersaing di posisi enam besar dan baru saja mencatatkan lap tercepat. Namun, kesalahan dalam membuka gas terlalu cepat di tikungan membuatnya mengalami highside crash yang berujung gagal finis.
Akibat hasil nol poin, posisi Veda di klasemen sementara pun merosot. Setelah sempat mengejutkan dengan naik ke peringkat tiga berkat podium di Brasil, kini ia harus turun ke posisi ketujuh. Meski begitu, ia masih menjadi rookie terbaik sejauh ini.
Posisinya disalip oleh sejumlah pembalap muda seperti Alvaro Carpe (Red Bull KTM Ajo), Valentin Perrone (Red Bull KTM Tech3), serta duo Leopard Racing yakni Guido Pini dan Adrian Fernandez. Keempatnya tampil gemilang di GP Amerika, dengan Pini keluar sebagai pemenang.
Guido Pini sendiri bukan nama baru di dunia balap junior. Pembalap binaan Emilio Alzamora tersebut memiliki rekam jejak kuat, termasuk gelar juara European Talent Cup serta runner-up JuniorGP. Bahkan, pencapaiannya di JuniorGP 2024 terbilang luar biasa karena diraih meski sempat absen setengah musim.
Memasuki musim keduanya di Moto3, Pini datang dengan ekspektasi tinggi. Ia mengaku sempat kesulitan saat hasil awal tidak sesuai harapan, namun kini memilih fokus untuk tampil konsisten dan mengumpulkan poin di setiap balapan.
Pini kini naik ke posisi empat klasemen sementara. Setelah gagal di Thailand, ia bangkit dengan finis kelima di Brasil dan kemudian meraih kemenangan di Amerika.
Menariknya, saat ditanya soal rival terberat, Pini tidak menyebut nama Veda. Ia justru menyoroti tiga nama lain, yakni Maximo Quiles, Alvaro Carpe, dan Valentin Perrone—para pembalap yang juga bersinar sejak level junior.
Keempat pembalap tersebut memang sudah saling mengenal sejak bersaing di ajang junior seperti JuniorGP, bahkan kerap menciptakan duel sengit di lintasan.
Sementara itu, Veda sebenarnya tidak asing menghadapi mereka. Ia pernah berduel dengan para rival tersebut saat tampil di Red Bull Rookies Cup 2024. Sejak awal, Veda menunjukkan mental kuat dengan berani bersaing tanpa rasa gentar.
Andai mampu mempertahankan posisi keenam di GP Amerika, Veda sejatinya bisa menyelip di antara para rivalnya di klasemen, bahkan unggul tipis atas Pini.
Dengan seri berikutnya akan berlangsung di Eropa, pengalaman Veda di ajang junior seperti Red Bull Rookies Cup dan JuniorGP diharapkan menjadi modal penting untuk kembali bersaing.
Kecelakaan di Austin pun menjadi pelajaran berharga bagi pembalap asal Gunungkidul tersebut agar bisa tampil lebih matang ke depannya.
Veda menegaskan tekadnya untuk bangkit pada seri selanjutnya di Circuito de Jerez. Ia berkomitmen menjadikan insiden ini sebagai pembelajaran penting untuk kembali tampil lebih kuat.
Balapan Moto3 seri GP Amerika di Circuit of the Americas berlangsung ketat sejak lap awal. Veda Ega Pratama langsung tampil agresif dan mampu bersaing di rombongan depan.
Memulai balapan dengan ritme yang cukup baik, Veda perlahan merangsek ke posisi enam besar. Ia bahkan sempat mencatatkan waktu putaran tercepat, menandakan kecepatannya mampu mengimbangi para rival utama.
Di barisan depan, pertarungan sengit terjadi antara Guido Pini, Alvaro Carpe, dan Valentin Perrone yang saling salip untuk memperebutkan posisi terdepan.
Memasuki pertengahan lomba, intensitas balapan semakin meningkat. Veda yang mencoba mempertahankan posisi sekaligus mendekati lima besar justru mengalami momen krusial. Saat keluar tikungan, ia membuka gas terlalu cepat hingga motornya kehilangan traksi dan mengalami highside crash.
Insiden tersebut membuatnya tidak dapat melanjutkan balapan. Sementara itu, di depan, Guido Pini berhasil menjaga konsistensi hingga akhirnya keluar sebagai pemenang, diikuti para pesaing kuat lainnya.
Kesimpulan Akhir
Kegagalan finis menjadi pukulan bagi Veda Ega Pratama setelah sebelumnya tampil menjanjikan di awal musim. Meski sempat menunjukkan kecepatan dan potensi besar, kesalahan kecil di lintasan harus dibayar mahal dengan hilangnya poin penting.
Di sisi lain, para rival seperti Guido Pini justru semakin menunjukkan kematangan dan konsistensi, yang menjadi kunci dalam persaingan papan atas Moto3 musim ini.
Namun demikian, posisi Veda sebagai rookie terbaik menunjukkan bahwa peluangnya masih terbuka lebar. Dengan pengalaman yang terus bertambah, ia tetap menjadi salah satu kandidat kuat untuk kembali bersaing di barisan depan.
Ringkasan Prediksi
Melihat performa sejauh ini, Veda Ega Pratama diprediksi akan bangkit pada seri-seri Eropa, terutama di Circuito de Jerez yang lebih familiar baginya.
Jika mampu memperbaiki konsistensi dan menghindari kesalahan teknis, Veda berpeluang kembali menembus lima besar bahkan meraih podium. Persaingan dengan Guido Pini, Alvaro Carpe, dan Valentin Perrone dipastikan akan semakin ketat.
Musim masih panjang, dan peluang Veda untuk kembali merangsek ke papan atas klasemen tetap terbuka, asalkan mampu memaksimalkan setiap balapan tanpa kehilangan poin.
