bookieindonesia.com, Bandung Persaingan gelar Premier League musim ini memasuki fase paling menegangkan. Arsenal dan Manchester City terus saling menempel di puncak klasemen, membuat peluang finis dengan poin sama semakin terbuka.
Kemenangan krusial yang diraih Manchester City dalam laga terakhir kontra Arsenal membuat jarak kedua tim semakin tipis. Situasi ini memunculkan satu pertanyaan besar: siapa yang berhak jadi juara jika keduanya mengakhiri musim dengan angka identik?
Mekanisme Penentuan Juara Premier League
Dalam regulasi resmi Premier League, posisi klasemen ditentukan pertama kali dari jumlah poin. Tim dengan angka tertinggi otomatis keluar sebagai juara.
Namun jika poin sama, maka pembeda berikutnya adalah selisih gol—yakni jumlah gol yang dicetak dikurangi jumlah kebobolan. Saat ini, Arsenal masih sedikit lebih unggul dalam aspek tersebut, meski situasinya bisa berubah kapan saja.
Jika selisih gol juga identik, maka jumlah gol yang dicetak menjadi penentu berikutnya. Tim dengan produktivitas lebih tinggi akan menempati posisi lebih atas.
Jika Semua Data Sama, Apa yang Terjadi?
Meski sangat jarang, ada kemungkinan ekstrem di mana dua tim memiliki poin, selisih gol, dan jumlah gol yang sama persis.
Dalam kondisi ini, penentuan juara akan mengacu pada rekor pertemuan langsung (head-to-head). Tim yang meraih hasil lebih baik dalam dua laga tersebut akan diunggulkan.
Musim ini, Arsenal sempat bermain imbang 1-1 saat menjamu Manchester City. Namun pada pertemuan berikutnya, City berhasil menang 2-1. Dengan demikian, The Citizens unggul dalam head-to-head dan berpotensi merebut gelar jika semua indikator lain sama.
Peluang yang Masih Terbuka Lebar
Manchester City masih memiliki satu laga lebih banyak dibanding Arsenal. Ini memberi keuntungan tersendiri bagi tim asuhan Pep Guardiola untuk mengejar bahkan melampaui poin rivalnya.
Jika mereka mampu memaksimalkan laga tunda, maka persaingan dipastikan berlangsung sengit hingga pekan terakhir.
Dari sisi produktivitas gol, kedua tim juga sangat berdekatan. City telah mengoleksi 65 gol, sementara Arsenal mencatatkan 63 gol. Selisih tipis ini membuat setiap pertandingan menjadi sangat krusial—bahkan satu gol bisa mengubah peta juara.
Kilas Balik: Juara Ditentukan Selisih Gol
Sejak era Premier League dimulai pada 1992, hanya satu kali gelar juara ditentukan lewat selisih gol, yakni pada musim 2011/2012.
Saat itu, Manchester City dan Manchester United sama-sama mengumpulkan 89 poin. Namun City unggul selisih gol (+64 berbanding +56), yang akhirnya memastikan mereka menjadi juara.
Momen tersebut semakin dramatis berkat gol telat Sergio Aguero ke gawang Queens Park Rangers—sebuah gol yang hingga kini dianggap sebagai salah satu momen paling ikonik dalam sejarah liga.
