Bookieindonesia.com, Medan – Muhammadiyah melalui Pimpinan Pusat (PP) menyampaikan sikap resmi terkait eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir pekan lalu.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis Senin (2/3/2026), PP Muhammadiyah menyampaikan duka cita atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta korban lainnya akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Republik Islam Iran. Organisasi tersebut juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban yang terdampak serangan balasan Iran di sejumlah negara Arab.
Muhammadiyah secara tegas mengutuk tindakan militer tersebut. Mereka menilai serangan itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia, hukum internasional, serta pengabaian terhadap resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menyatakan bahwa komunitas internasional, khususnya PBB, tidak boleh bersikap pasif. Ia mendesak agar badan dunia tersebut segera menjatuhkan sanksi hukum dan politik kepada pihak-pihak yang dinilai telah melanggar kedaulatan negara lain.
Menurut Muhammadiyah, operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar aksi pertahanan, melainkan tindakan yang berpotensi merusak tatanan hukum internasional dan stabilitas global.
Organisasi ini juga menyoroti banyaknya korban jiwa yang jatuh, termasuk di beberapa negara Arab, sebagai bukti nyata bahwa eskalasi konflik telah berdampak luas dan mengancam kemanusiaan.
Muhammadiyah mengajak lembaga multilateral maupun bilateral, serta para tokoh agama di berbagai negara, untuk bersatu menyuarakan penolakan terhadap kekerasan yang dinilai dapat merusak peradaban. Selain itu, mereka menyerukan agar Iran dan negara-negara Arab menahan diri serta mengedepankan dialog guna mencegah konflik semakin meluas.
Di sisi lain, Muhammadiyah mendorong PBB bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk lebih aktif menghentikan kekerasan terhadap rakyat Palestina serta mencegah terjadinya genosida.
Menurut organisasi tersebut, kegagalan lembaga internasional dalam mengambil langkah tegas berisiko memperuncing konflik antarnegara, termasuk di antara sesama anggota OKI. Oleh karena itu, Muhammadiyah menilai jalur diplomasi harus segera ditempuh sebagai solusi jangka panjang demi menjaga perdamaian kawasan Timur Tengah.
