bookieindonesia.com, Jakarta – Tingginya paparan partikel halus PM2.5 di Jakarta dinilai berpotensi menekan angka usia harapan hidup warga. Partikel mikroskopis ini bukan hanya bersumber dari asap kendaraan dan cerobong industri, tetapi juga berasal dari aktivitas pembakaran terbuka seperti membakar sampah hingga proses memasak dengan bara api, termasuk sate.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa, mengungkapkan bahwa PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang mengandung berbagai zat berbahaya. Karena ukurannya yang amat halus, partikel ini mudah terhirup dan mampu menembus jauh ke dalam sistem pernapasan manusia.
Dalam sebuah diskusi publik yang digelar oleh Clean Air Asia di Jakarta Pusat, Erni menyampaikan bahwa berbagai penelitian telah menunjukkan dampak serius dari paparan PM2.5 terhadap kesehatan. Ia merujuk pada kajian yang dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang menyoroti kandungan beracun dalam partikel tersebut. Menurutnya, partikel PM2.5 terdiri dari komponen-komponen sangat kecil yang dapat membawa zat toksik berbahaya bagi tubuh.
Kelompok Rentan Paling Berisiko
Paparan polusi udara jenis ini, lanjut Erni, sangat berisiko bagi kelompok rentan seperti balita dan lanjut usia. Anak-anak yang sistem imunnya belum berkembang sempurna serta orang tua dengan kondisi kesehatan yang menurun lebih mudah terdampak.
Efek kesehatan yang kerap muncul antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memburuknya penyakit paru kronis, hingga peningkatan risiko gangguan kesehatan jangka panjang. Selain itu, sejumlah studi juga mengaitkan polusi udara dengan risiko kanker serta gangguan tumbuh kembang pada anak.
Kementerian Kesehatan, menurut Erni, juga telah menyampaikan keprihatinan serupa. Data kesehatan menunjukkan bahwa kasus ISPA cenderung meningkat ketika kualitas udara memburuk, terutama pada kelompok usia rentan. Kondisi ini menjadi alarm serius bahwa persoalan polusi udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga ancaman nyata bagi kesehatan publik.
Pemantauan Kualitas Udara Secara Berkala
Untuk mengawasi kondisi udara, DLH DKI Jakarta mengoperasikan sejumlah Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di berbagai titik strategis. Data hasil pemantauan tersebut dapat diakses masyarakat secara terbuka melalui aplikasi JAKI maupun kanal informasi resmi kualitas udara Jakarta.
Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat mengetahui kondisi terkini kadar PM2.5. Jika konsentrasinya melampaui ambang batas yang ditetapkan, sistem akan memberikan peringatan agar warga membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan.
Erni mencontohkan sebuah kejadian di salah satu sekolah di Jakarta. Saat dilakukan pengukuran, kadar PM2.5 tercatat melebihi baku mutu udara. DLH kemudian merekomendasikan agar aktivitas luar ruangan untuk sementara dikurangi demi menjaga kesehatan siswa.
Namun, rekomendasi tersebut sempat menimbulkan perdebatan karena berbenturan dengan agenda kegiatan sekolah. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, ditemukan bahwa lonjakan PM2.5 terjadi bertepatan dengan jam pulang sekolah, ketika banyak sepeda motor dinyalakan secara bersamaan di area parkir.
Gas buang kendaraan yang langsung terdeteksi oleh alat pemantau menyebabkan angka PM2.5 meningkat signifikan dalam waktu singkat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas sederhana yang berlangsung serentak dapat berdampak langsung pada kualitas udara sekitar.
Pembakaran Sampah Jadi Kontributor Utama
Selain emisi kendaraan bermotor, aktivitas pembakaran terbuka disebut menjadi penyumbang besar partikel PM2.5. Erni menegaskan bahwa pembakaran sampah merupakan sumber yang paling berbahaya dibandingkan aktivitas pembakaran lainnya.
Menurutnya, ketika petugas melihat angka PM2.5 di SPKU terus tinggi, tim lapangan akan diturunkan untuk mengecek kemungkinan adanya pembakaran di sekitar lokasi, baik itu sampah rumah tangga maupun aktivitas memasak dengan bara api seperti memanggang ikan atau sate.
Meski asap dari pembakaran makanan juga memberi kontribusi terhadap peningkatan partikel di udara, dampaknya dinilai tidak sebesar pembakaran sampah. Sampah yang dibakar kerap mengandung berbagai material berbahaya seperti plastik dan bahan kimia lain yang menghasilkan zat beracun saat terbakar.
Karena itu, DLH terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka. Selain mencemari udara, praktik tersebut juga berpotensi membahayakan kesehatan warga di sekitarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengendalian
Erni menekankan bahwa upaya pengendalian polusi udara tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Diperlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari individu, komunitas, hingga pelaku usaha.
Pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, perawatan rutin mesin kendaraan, serta penghentian praktik pembakaran sampah menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan warga. Di sisi lain, pemerintah terus berupaya memperkuat kebijakan pengendalian emisi dan meningkatkan pengawasan kualitas udara.
Masalah polusi udara, khususnya PM2.5, merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi banyak faktor. Namun, dengan kesadaran bersama dan tindakan nyata, dampaknya terhadap kesehatan—termasuk potensi penurunan usia harapan hidup—dapat ditekan.
Kualitas udara yang lebih bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga hasil dari perilaku kolektif masyarakat. Tanpa kerja sama yang solid, ancaman partikel berbahaya ini akan terus membayangi kehidupan warga perkotaan.
