bookieindonesia.com, Yogyakarta – Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pariwisata menetapkan target ambisius untuk sektor pariwisata pada tahun 2026, yakni menarik sekitar 6,625 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dispar Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini, menyampaikan bahwa angka tersebut telah tercantum dalam rencana strategis jangka panjang hingga tahun 2030. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers menjelang pelaksanaan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung.
Target tersebut mengalami peningkatan dibandingkan target tahun 2025 yang dipatok sebesar 6,5 juta kunjungan. Bahkan, pada tahun tersebut Bali berhasil melampaui ekspektasi dengan total kunjungan mencapai 6,9 juta wisatawan asing.
Meski angka kunjungan tetap menjadi perhatian, Dispar Bali kini mulai mengedepankan kualitas wisatawan daripada sekadar jumlah. Namun, untuk mencapai target yang ditetapkan, berbagai strategi tetap diperlukan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengurangi ketergantungan terhadap wisatawan dari kawasan Eropa dan Amerika, dan mulai mengalihkan fokus ke pasar Asia. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geopolitik di Timur Tengah yang selama ini menjadi jalur transit utama menuju Bali bagi wisatawan dari Eropa.
Sebagai alternatif, Bali akan lebih gencar membidik wisatawan dari kawasan Asia Pasifik seperti Australia, Asia Tenggara, Asia Timur, serta India yang dinilai memiliki potensi besar dan akses yang lebih dekat.
Berdasarkan data kunjungan tahun 2025, Australia masih menjadi penyumbang wisatawan terbesar ke Bali. Negara lain yang masuk dalam daftar teratas antara lain China, India, Korea Selatan, Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Malaysia, Singapura, dan Jerman.
Namun, kondisi global membuat beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman berpotensi mengalami penurunan jumlah kunjungan akibat isu keamanan dan ketidakstabilan regional.
Selain pasar internasional, Bali juga tetap mengandalkan wisatawan domestik sebagai penopang utama sektor pariwisata. Hal ini terbukti saat pandemi COVID-19, di mana wisatawan nusantara berperan besar dalam menjaga pergerakan ekonomi daerah.
Untuk memperluas pasar, Dispar Bali juga mendorong dukungan dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pariwisata dan Kementerian Luar Negeri, dalam membuka peluang kerja sama dengan negara-negara baru yang potensinya belum tergarap maksimal.
Salah satu negara yang mulai dilirik adalah Kanada. Berdasarkan informasi dari Konsulat Jenderal Indonesia di Kanada, wisatawan asal negara tersebut memiliki minat tinggi terhadap Bali, terutama karena suasananya yang tenang. Bahkan, mereka cenderung tinggal lebih lama, bisa mencapai hingga dua minggu.
