HomeBerita

Pekalongan Diusulkan Masuk Prioritas Awal Proyek Giant Sea Wall

Kementerian PU dorong percepatan perlindungan Pantura, Pekalongan dinilai paling rentan akibat penurunan tanah dan banjir rob

Pekalongan Diusulkan Masuk Prioritas Awal Proyek Giant Sea Wall
Pekalongan Diusulkan Masuk Prioritas Awal Proyek Giant Sea Wall

bookieindonesia.com, Bandung — Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengajukan usulan agar wilayah Pekalongan dimasukkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) tahap pertama. Usulan ini ditujukan kepada Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, selain kawasan yang sebelumnya telah direncanakan seperti Teluk Jakarta serta wilayah Semarang–Kendal–Demak.

Menurut Dody, kondisi terkini Pekalongan yang sebagian wilayahnya telah berada di bawah permukaan laut menjadi alasan kuat untuk segera mendapatkan perlindungan. Ia menegaskan bahwa situasi tersebut perlu mendapat perhatian khusus dalam penentuan prioritas pembangunan tahap awal proyek GSW.

Dalam pernyataannya di Karanganyar, Jawa Tengah, Dody menyampaikan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, agar mempertimbangkan Pekalongan sebagai bagian dari wilayah yang diprioritaskan.

Lebih lanjut, Kementerian PU juga terus memperkuat koordinasi dengan BOPPJ terkait pelaksanaan proyek Giant Sea Wall. Bahkan, pihak kementerian telah berkomitmen untuk mendukung penuh pembiayaan proyek tersebut, termasuk mengalihkan berbagai pinjaman luar negeri yang sebelumnya dikelola kementerian agar sepenuhnya digunakan oleh BOPPJ.

Dody menjelaskan bahwa sejumlah inisiatif pendanaan telah berjalan, termasuk kerja sama pembiayaan internasional yang berkaitan dengan pembangunan tanggul laut raksasa. Seluruh dukungan tersebut, menurutnya, akan difokuskan untuk mempercepat realisasi proyek strategis ini.

Sementara itu, BOPPJ menilai pembangunan Giant Sea Wall menjadi langkah mendesak guna melindungi kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, dengan nilai mencapai sekitar 368,3 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto (PDB).

Didit Herdiawan Ashaf menambahkan, selain menghadapi penurunan muka tanah, kawasan Pantura juga kerap dilanda banjir rob akibat kenaikan permukaan laut. Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam berbagai aset strategis nasional yang berada di wilayah tersebut.

Beberapa kota penting di Pantura, seperti Semarang, juga mengalami fenomena penurunan tanah yang signifikan, sehingga memperparah risiko banjir rob dan kerusakan infrastruktur.

Exit mobile version